Pages

Senin, 02 Maret 2015

Bibir, Mata, dan Sendi-nya


Dan ia terus menangis tersedu, nafasnya saling berkejaran tidak berhenti, suaranya mulai serak, dan aku terus menghiburnya. Butuh waktu tiga jam untuknya menghentikan air mata yang terus berontak untuk keluar. Cukup rasanya untuk membuatkan waduk dari air matanya. Ia terlalu sakit. Tidak tahu kemana mengabarkannya. Hingga ia pendam dan rahasiakan untuk otak dan hatinya saja. Bahkan bibir, mata, dan seluruh sendinya kian terkejut mengetahui sakit yang ia rahasiakan hingga lemas tak berdaya saja yang mereka bisa tampakkan. Bibir yang tak berhenti bergetar hingga menjadi kering, mata yag terus saja sembab menjadi bengkak, dan sendi yang tidak mampu lagi menopang bahkan untuk sehelai bulu. 

Hingga waduk air matanya telah penuh tak berongga lagi, bibirnya mulai menyunggingkan senyum, matanya kembali putih jernih, dan ia mulai berdiri tegak. Sakit yang ia rahasiakan sedikit-sedikit berkurang, telah ringan setelah membaginya kepada  bibir, mata, dan sendi . meski aku tidak mendengar cerita apapun tentang sakitnya, ingin ku ucapkan seribu ungkapan terima kasih kepada bibir, mata, dan sendinya yang telah berbagi sakit dengannya hingga ia kini mulai bercerita lepas lagi tentang kisah klasik masa kecilnya yang tiada terputus. 

Ia masih sesenggukan saat menceritakan masa kecilnya yang sering mengisap cairan dari bunga asoka lalu merangkainya menjadi sebuah kalung, gelang, dan juga cincin. Namun senyuman kecil-kecil dari bibirnya, binar bahagia dari matanya, dan gerakan hiperaktifnya membuatku yakin ia telah membaik. Lalu ku biarkan ia juga bercerita tentang pohon yang dulu sering ia panjat, bakso yang sering ia pesan, geng masa kecilnya, hingga kisah menunggu durian jatuh dikampung ayahnya. Bahagia sekali melihat ekspresi yang beragam dari wajahnya. Tidak ada bibir bergetar lagi, derai air mata, juga sendi yang lunglai. Hanya ada wajah manis penuh semangat bercerita kepada kekasihnya yang rela “dipaksa “mendengar cerita ringannya. 

Dan untuk sakit yang selalu kau rahasiakan, bagikanlah! Jika tidak bisa kepadaku, cobalah kepada kekasihmu, atau biarkan bibir, mata, dan sendimu yang tahu. Kumohon jangan memendamnya. Bukan! Kumohon jangan sakit lagi! Jangan biarkan wajah manis itu berubah pasi lagi.


1 komentar:

Ririn Mamiek Wulandari mengatakan...

Dan untuk sakit yang selalu kau rahasiakan, bagikanlah!

Posting Komentar