Pages

Minggu, 10 Januari 2016

sesak!

aku sedikit mendelik
ada yang mencoba berontak dibalik dada
sesak!

ini terlampau sulit untuk pergi
tapi disini juga sakit untuk tinggal

semua semu!
aku tiada mengenalnya

semua palsu!
sedikitpun aku susah mengingatnya

kamu
aku
kita
jauh dari mimpi yang pernah kita matangkan lalu awetkan
diperjalanan semuanya menjadi basi

aku paham, aku penyebabnya!
tidak ada alasan untukku menggerutu
aku yang menciptakannya
kesunyian ini
kesemuan ini
kepalsuan ini

dan baiklah, kita anggap kamu tidak punya andil mengubah ini semua
biar aku saja!
agar dalam kisah ini, ada yang bisa kita persalahkan


Minggu, 03 Januari 2016

Tuan...





Selamat pagi tuan
Tidurmu nyenyak semalam ini?
Aku sedikit menyesal melihat kantong hitam dibawah matamu itu
Maafkan aku yang terus mengganggumu dalam mimpimu

Tuan..
Bisakah kau sisipkan waktumu sebentar?
Kurasa kita perlu sedikit waktu untuk bercerita
Bertiga bersama Tuhan

Aku sudah mengatur scenario untuk kita
Bagianmu dan bagianku
Kita coba untuk bernegosiasi dengannya
Merayunya
Untuk sudi memberikan jalan-Nya untuk kita

Sepertinya kita juga butuh sedikit pengorbanan
Menyerahkan seluruh waktu kita untuk-Nya misalnya
Sedikit-sedikit kita raih hatinya
Agar Ia mau berpaling sedikit, manatap kita, senyum pada kita, lalu menyediakan singgasana untuk kita

Tuan…
Kau ada waktukan?
Untuk-Nya?
Untuk memintaku pada-Nya?

Kamis, 12 November 2015

aku (hanya) mahkluk ...



Apa kabar (kau yang selalu ku sebut) cinta?
Maafkan aku yang berpaling darimu.
Juga maafkan aku yang menjauh darimu
Tapi percaya, bahwa itu hanya raga. Hatiku masih disana!

Aku makhluk naïf
Yang berharap dengan senyum semua akan baik-baik saja

Aku hamba munafik
Menganggap dengan tertawa kau pun juga akan ikut tertawa

Ahhh… sepertinya aku salah
Kita tidak baik-baik saja
Kita terpaksa untuk saling tertawa
Kita? baiklah! Mungkin hanya aku.

Aku menitipmu pada Tuhan
Aku menyerah pada-Nya
Entah akan dikembalikannya engkau padaku
Atau melihatmu dengan karib yang ku kenal

Tapi aku terlalu angkuh
Tanpa canggung kadang ku eja namamu dalam tengadahku
Seakan tidak percaya pada naskah Tuhan

Tapi aku terlalu lemah
Yang ku tahu, aku mempersiapkan yang terbaik bagi yang membaikkan diri pula
Dan yang ku harap itu kamu!
Hanya itu yang ku mampu. Hanya itu.

Jumat, 15 Mei 2015

(hanya mampu) lewat tatapan




 Assalamu alaikum

Bisa semuanya saya sampaikan lewat tatapan saja? Ini terlalu sulit untuk menuliskan apa yang hati dan logika ingin sampaikan. Hati ingin mengungkapkannya dengan penuh puitis dan romantic, sedangkan kau tahu bagaimana aku sebenarnya. Logikaku benar-benar menolaknya!

Bisa kita berbicara dengan tatapan saja? Ini terlalu banyak untuk ku tuliskan satu persatu. Doaku, harapanku, perasaanku, khayalanku, semuanya! Seluruhnya ingin ku tumpahkan padamu, tapi terlalu banyak. Takutku kau akan menguap dan terkantuk kemudian terlelap hingga pulas.

Ayolah, tatap mataku saja! Aku terlalu malu mengungkapkan semuanya. Menuliskan ini saja sudah membuat aku berulang kali menekan tuts kanan atas karena malu, urat bibirku juga jadi kram karena tersenyum sepanjang menulis ini.

Aku mengucapkannya dengan tatapan saja yah? Kaukan mahir menginterpretasi. Sepanjang perkuliahan, kau bergelut dengan tatanan bahasa. Kadang juga dengan gerak seseorang kau sudah paham apa yang diinginkannya. Tidak perlu ku ucapkan yah?

Aku janji, tidak akan ku tutupi apapun dari tatapanku. Kau tahukan, mata adalah jendela hati? Semuanya bisa terlihat jelas meski tidak keluar dari mulut. Semuanya akan ku perjelas. Akan ku buatkan kau jalur khusus untuk melihat isi hatiku tanpa perlu kau bergulat dengan logikaku.

Kau tidak butuh waktu lama untuk menatapku. Sesekonpun cukup! Karena sudah ada tempat yang kusediakan untukmu. Special!



Senin, 02 Maret 2015

Bibir, Mata, dan Sendi-nya


Dan ia terus menangis tersedu, nafasnya saling berkejaran tidak berhenti, suaranya mulai serak, dan aku terus menghiburnya. Butuh waktu tiga jam untuknya menghentikan air mata yang terus berontak untuk keluar. Cukup rasanya untuk membuatkan waduk dari air matanya. Ia terlalu sakit. Tidak tahu kemana mengabarkannya. Hingga ia pendam dan rahasiakan untuk otak dan hatinya saja. Bahkan bibir, mata, dan seluruh sendinya kian terkejut mengetahui sakit yang ia rahasiakan hingga lemas tak berdaya saja yang mereka bisa tampakkan. Bibir yang tak berhenti bergetar hingga menjadi kering, mata yag terus saja sembab menjadi bengkak, dan sendi yang tidak mampu lagi menopang bahkan untuk sehelai bulu. 

Hingga waduk air matanya telah penuh tak berongga lagi, bibirnya mulai menyunggingkan senyum, matanya kembali putih jernih, dan ia mulai berdiri tegak. Sakit yang ia rahasiakan sedikit-sedikit berkurang, telah ringan setelah membaginya kepada  bibir, mata, dan sendi . meski aku tidak mendengar cerita apapun tentang sakitnya, ingin ku ucapkan seribu ungkapan terima kasih kepada bibir, mata, dan sendinya yang telah berbagi sakit dengannya hingga ia kini mulai bercerita lepas lagi tentang kisah klasik masa kecilnya yang tiada terputus. 

Ia masih sesenggukan saat menceritakan masa kecilnya yang sering mengisap cairan dari bunga asoka lalu merangkainya menjadi sebuah kalung, gelang, dan juga cincin. Namun senyuman kecil-kecil dari bibirnya, binar bahagia dari matanya, dan gerakan hiperaktifnya membuatku yakin ia telah membaik. Lalu ku biarkan ia juga bercerita tentang pohon yang dulu sering ia panjat, bakso yang sering ia pesan, geng masa kecilnya, hingga kisah menunggu durian jatuh dikampung ayahnya. Bahagia sekali melihat ekspresi yang beragam dari wajahnya. Tidak ada bibir bergetar lagi, derai air mata, juga sendi yang lunglai. Hanya ada wajah manis penuh semangat bercerita kepada kekasihnya yang rela “dipaksa “mendengar cerita ringannya. 

Dan untuk sakit yang selalu kau rahasiakan, bagikanlah! Jika tidak bisa kepadaku, cobalah kepada kekasihmu, atau biarkan bibir, mata, dan sendimu yang tahu. Kumohon jangan memendamnya. Bukan! Kumohon jangan sakit lagi! Jangan biarkan wajah manis itu berubah pasi lagi.


Jumat, 13 Februari 2015

aku benci hujan!




Kadang aku harus tertawa geli melihat lakonku dikala hujan
Sedikit malu aku melirik pada mereka
Aku benci sekali hujan
Namun bisa saja menjadi penggemar fanatiknya sekaligus

Tersenyum simpul aku dibalik tirai jendela kamar
Aku tetap saja memaki hujan
Meski aku memandang mereka dengan sorotan kagum
Aihhh… anak siapa dibalik tirai ini yang terlalu naïf?

Sekali lagi aku tertawa
Tapi kusembunyikan seapik mungkin dari hujan
Biar aku dan tirai jendelaku saja yang tahu aku tertawa
Jangan sampai hujan itu tahu!

Angin kemudian meniup kasar tirai jendelaku
Sontak saja ia terkibas dan menampakkan wajahku pada hujan
Untungnya aku mahir bermain wajah
Biar hujan hanya tahu aku membencinya saja

Rabu, 21 Januari 2015

apalagi berpindah


berikan aku waktu lebih, lebih, lebih banyak lagi
untuk mengikis sedikit saja rinduku
menyicil tawa yang kemarin ku abaikan

biarkan aku berada dalam labirin ini
jangan pernah satu kalipun kau tunjukkan aku jalan keluarnya
agar aku bisa terus merasakan semilir angin bebas yang bertiup sepoi

satu detik.
aku hanya butuh satu detik untuk merasakan kau ada disini
tidak jauh dariku
bisikan angin tidak mungkin membohongiku
dia begitu jujur bahkan untuk menyembunyikanmu disudut lain

satu detik
hanya satu detik untukku tahu kau memanggil namaku
jelas sekali
cahaya matahari tidak mungkin menipuku
bahkan meski itu hanya bayangan, dia akan memberi tahuku itu kamu

tetaplah disana!
jangan kau berpindah! tunggu aku sebentar lagi
akan ku selesaikan labirinku sendiri
dan aku akan berlari bersama angin sepoi ditemani cahaya matahari menujumu

kau tahu bukan, aku tidak akan lelah meski aku lelah?
maka, jangan berpaling!
meski aku mungkin akan berjalan lebih pelan darimu
meski aku tidak bisa mengeja namamu secepat kau mengeja namaku

aku disini!
tidak akan kemana-mana apalagi berpindah
tetap disini
walau nanti kau akan menambah kecepatan jalanmu
atau kau berhenti mengeja namaku
aku disini!
tidak akan kemana-mana apalagi berpindah